Showing posts with label Motivasi. Show all posts


Salam!! :D

Teman-teman so pasti udah pada tau Google kan ?, Google bukan hanya sekedar alat mesin penelusur untuk mencari keyword yg kamu inginkan di browser loh, tapi google juga memiliki banyak bidang usaha dan jasa lainnya, meliputi teknologi pencarian, komputasi web, perangkat lunak, dan periklanan daring. Sebagian besar labanya berasal dari AdWords.

Didirikian oleh Larry Page dan Sergey Brin pada tanggal 4 September 1998, Mereka menempuh segala rintangan dan persaingan hingga kini nama Google sudah menjadi sangat di tinggikan di seluruh penjuru dunia. (iya wong ada apa-apa pada tinggal tanya google:p iyakan!?)

Kali ini gue mau berbagi Cerita tentang Pemuda dan Pemudi Indonesia yang Bekerja Di Google. 
Enak banget!!! 
Enak kenapa ?, Yuk langsung aja simak cerita yang kita ambil dari penelusuran Tim Jawa Pos saat berada di Googleplex.



Google. Foto: AFP

GOOGLE menempati posisi teratas daftar perusahaan paling kaya di dunia dalam tiga tahun terakhir, secara berturut-turut. Selain digunakan untuk mengembangkan produk, sebagian kekayaan itu dibelanjakan buat kesejahteraan 55 ribu karyawannya. Di antara mereka, ada puluhan pemuda dari Indonesia.
----------------
Semerbak aroma kopi dan hilir mudik orang berbaju sport menyambut kedatangan Jawa Pos di lobi gedung 2000. Salah satu gedung di Googleplex, kawasan seluas 50 hektare di Mountain View, San Francisco, itu merupakan tempat petinggi perusahaan teknologi informasi paling bergengsi, Google, berkantor.

Saat menunggu Jen Fitzpatrick, vice president maps products Google, untuk sesi wawancara, Jawa Pos menyaksikan puluhan orang melintas. Orang-orang itu jelas tidak berkostum kerja. Padahal, mereka sedang di kantor perusahaan bernilai Rp 2.393 triliun.

Mata pun tak tahan untuk melirik layar ponsel. Selasa, 27 Oktober 2015, ”Benar, ini hari kerja, bukan weekend,” gumam hati. Sebagian besar dari yang melintas itu membawa nampan dengan kotak makanan dan gelas minuman bergambar kartun di atasnya. Sebagian lagi masuk dengan membawa sepeda.

Ada yang langsung masuk lift dan naik. Ada pula yang langsung menggendong sepeda dan naik tangga. Sisanya adalah orang lalu-lalang dengan membawa baki besar yang berisi pakaian.

Karena Jen belum kunjung datang, rasa penasaran pun membuat kaki melangkah. Beranjak dari lobi menuju ruangan lain yang terdengar ribut. Ternyata, sumber keributan itu adalah sebuah restoran. Dari restoran dalam gedung itulah orang-orang yang membawa nampan berasal. Sebagian lagi makan di tempat. Mereka ini diam. Yang ribut adalah puluhan koki.

Mereka sibuk membuat puluhan menu yang diminta karyawan dalam sebuah voting (pemilihan) online ”Makanan apa yang paling Anda inginkan minggu ini?” yang disebar ke e-mail seluruh penghuni gedung 2000 Minggu sebelumnya.

Dari daftar yang terpajang untuk disajikan, terselip kata ”sambal tomat”. Langsung saja muncul dugaan bahwa di antara yang vote menu itu, pasti ada yang berasal dari Indonesia.

Tak perlu waktu lama untuk membuktikan dugaan itu. Dua jam setelah interview yang menarik dengan Jen, Jawa Pos diundang untuk bergabung makan siang dengan Indogoogler, sebutan di forum online untuk orang-orang Indonesia yang bekerja di Google.

Tentu Amanda tidak sendiri. Di meja panjang yang di atasnya tertulis ”this table reserved by Indonesia media visit” itu sudah menunggu Alvan Santoso, Budi Kusmiantoro, Hamdanil Rasyid, Hong Majaya, dan Hans Tedja.


Diselingi makanan serbasayur dan buah, mengalirlah cerita bagaimana para Indogoogler itu bekerja di perusahaan paling diidamkan seluruh karyawan di dunia tersebut.

Alvan, yang sudah sembilan tahun bekerja di Google, mengungkapkan, keuntungan material yang paling terasa dengan bekerja di Google adalah makanan yang tersedia di mana-mana.

"Tidak cuma makanan, tapi makanan sehat. Sayur dan buah ada di mana-mana, pagi, siang, dan malam,” ungkap pria 39 tahun kelahiran Tegal itu.

Makanan memang mendapat perhatian penting dari duo pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, saat membangun Googleplex. Saat ini ada 20 restoran yang tersebar di Googleplex dan 83 kafe mini di setiap gedung. Di setiap resto dan kafe itu, disediakan makanan yang paling sehat dan higienis. Untuk semua itu, siapa saja boleh ambil cuma-cuma.

”Pembicaraan saat makan adalah pembicaraan paling produktif dan penuh ide,” bunyi kutipan Larry Page seperti yang tercantum di museum Google, yang menggarisbawahi cara pandang perusahaan soal gizi karyawan.

Karena itu, ada standar pengadaan di restoran yang mengacu pada lama antrean. Jika antre makanan pada jam makan siang sudah lebih dari tujuh menit, saatnya dibangun restoran baru.

Jika makanan saja diperlakukan demikian penting, jangan ditanya untuk urusan lain. Amanda mengungkapkan, diriya sebagai perempuan dimanjakan dengan fasilitas gym, mother room, dan child care terbaik. ”Di sini, banyak sekali pilihan ikut klub olahraga. Jadi, sangat mudah untuk menjadi fit dan fokus kerja,” sebut analis di Nest, anak usaha Google, tersebut.
pujisetiawans.blogspot.co.id
Ungkapan Amanda tak berlebihan. Di setiap gedung yang memiliki restoran, selalu disediakan arena voli pantai berstandar Olimpiade. Pemandangan karyawan pria yang bertelanjang dada serta karyawan perempuan (tentu tetap memakai sport T-shirt dan celana kasual) main voli pantai menjadi view mengasyikkan sambil menyantap salad.

Bagaimana tempat pijat dan kolam renang? Hamdanil, pemuda Riau yang sudah dua tahun bekerja di Google, menyebut fasilitas itu ada. Cuma, karena bukan karyawan, Jawa Pos tak bisa diajak masuk ke ruang pijat dan kolam renang.


”Kami bisa renang kapan saja. Cuma, untuk pijat, hanya dapat jatah atau kuota satu jam setahun. Mau lebih ya bayar,” ungkap Hamdanil, yang mengaku belum pernah ambil jatah pijat.

Perhatian juga diberikan untuk transportasi. Meskipun sedang menggarap proyek driverless car, Google memilih menyediakan transportasi sepeda pancal untuk mobilitas karyawannya.

Ratusan sepeda yang berwarna kuning, hijau, dan biru tersedia di setiap pusat keramaian. Karyawan dan tamu bebas memakai sesuka hati. Jika sepeda rusak, ada teknisi khusus yang memperbaiki.

Tak hanya memenuhi kebutuhan jasmani, aneka program juga dirancang oleh Google maupun inisiatif karyawan sendiri untuk memuaskan kebutuhan rohani. Mau tahu apa saja? Jika tak punya akses ke intranet, info dinding di dekat pintu lift bisa menjadi panduan.

Kertas pengumuman kegiatan, mulai nonton bersama film Back to the Future, pesta Halloween, hingga pentas teater, berdesakan dengan undangan grup diskusi dengan Hillary Clinton, aksi sukarela ke lokasi gempa di Pakistan dan Afghanistan, serta puluhan tempelan kertas undangan lainnya. Aneka pengumuman itu membuat Googleplex lebih mirip dengan kampus daripada sebuah kompleks perkantoran.

Itu yang inisiatif karyawan, belum lagi acara yang digagas manajemen Google. Salah satunya peluncuran Project Loon yang di undangan dinding masih disebut akan dihadiri Presiden Jokowi. Satu lagi acara yang ditunggu ribuan karyawan Google adalah TGIF (Thanks God It's Friday) yang berlangsung setiap Kamis malam sejak Google berdiri.

Menurut Budi, TGIF adalah salah satu program yang menunjukkan bahwa freedom of speech dijunjung tinggi di Google. ”Di TGIF, kami semua bisa bertanya mulai soal paling serius hingga paling ridiculous,” ungkapnya.

Yang menjawab pun tak tanggung-tanggung, Larry Page dan Sergey Brin langsung. ”Jadi, saat itu langsung ada jawaban sekaligus keputusan,” tutur dia. Di setiap sesi, selalu ada pertanyaan yang paling difavoritkan dalam voting online.

”Yang saya ingat dan sempat ramai adalah permintaan dibolehkannya gay marriage antarkaryawan sampai usul nama untuk Google Plus. Saat itu TGIF betul-betul heboh,” kata Budi, yang sudah bekerja di Google sembilan tahun dan menjadi manajer di aplikasi Android dan Google Store.

Atas semua fasilitas itu, tidak ada jam kerja pasti bagi karyawan Google. Mereka bisa masuk cuma satu jam, bahkan tidak masuk pun tak dipermasalahkan. Menurut Jerry, arek Rungkut, Surabaya, yang sudah lima tahun bekerja untuk unit artificial intelligence di Google, perusahaan itu mementingkan hasil.

Sementara untuk proses, Google percaya penuh kepada karyawan dan manajernya. ”Jika ada proyek dijadwalkan delapan hari selesai namun di hari kelima tuntas dan bekerja dengan baik, tim bebas. Kerja terus silakan, prepare project berikutnya juga oke,” ujar dia.

Sedangkan cuti dijatah 15 hari untuk karyawan yang bekerja kurang dari tiga tahun. Jika masa kerja di atas tiga tahun, karyawan boleh cuti sampai 30 hari. Jumlah cuti yang lebih besar didapat jika karyawan dikaruniai buah hati. Sang ayah, jika karyawan Google, boleh off sampai tiga bulan.

Sedangkan karyawan perempuan yang melahirkan diberi hak cuti hingga enam bulan. ”Saat kerja lagi setelah melahirkan, saya sudah tak waswas dengan bayi saya yang sudah cukup besar,” kata Amanda, karyawan lima tahun di Google yang sudah punya dua anak.

Di luar hak libur, karyawan juga boleh off tanpa dihitung cuti jika sakit mendadak seperti flu, menjaga keluarga inti yang lagi sakit, atau ada keperluan yang dianggap penting lainnya dengan seizin manajer.

Bagaimana gaji? Seluruh karyawan Google dari Indonesia dan dua pejabat tinggi Google yang ditanya langsung oleh Jawa Pos menolak menyebut angka. ”Angkanya confidential, sangat bergantung pengalaman, posisi, dan bidang yang ditangani,” sebut Hong Majaya, yang direkrut sebagai business system analyst Google lima bulan lalu.

Bramandia Ramadhana, alumnus SMA Negeri 5 Surabaya yang juga sudah lima tahun bekerja di Google, hanya bersedia memerinci unsur take-home pay karyawan Google. Yakni, gaji pokok + saham perusahaan + bonus.

Dari tiga unsur tersebut, hasil dari penjualan saham dominan. Sedangkan gaji dipatok tetap. Besar bonus menyesuaikan performa karyawan yang bersangkutan. ”Kalau yang saya terima ya lumayan lah, cukup buat beli rumah di Mountain View,” ujarnya, lalu tertawa.

Google tidak memberikan tunjangan anak dan istri seperti perusahaan di Indonesia. ”Di sini berlaku equal work, equal pay. Jadi, semua dibayar berdasar apa yang dikerjakan,” lanjut Bram.

Sonny Sasaka, karyawan Google bidang software engineering, menyebutkan, angka gaji karyawan Google sebetulnya sudah banyak tersebar dan bisa dilacak di mesin pencari. Valid atau tidak? Alumnus SMA Santa Maria Surabaya itu menyebut beberapa di antaranya akurat, sebagian lain berlebihan.

Dari hasil pelacakan Jawa Pos di internet, didapat data-data bahwa gaji engineer pemula di Google seperti Sonny dan Hamdanil bisa Rp 500 juta sampai Rp 4 miliar per tahun. Di posisi manajer seperti Alvan dan Budi, gaji bisa berlipat, Rp 6 miliar sampai Rp 20 miliar per tahun.

Benarkah angka-angka itu? Saat dikonfirmasi, Hong mengingatkan bahwa uang memang sangat penting dan mengakui bahwa gaji dari Google cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup standar plus menabung. Tapi, internal supporting Google-lah yang membuat dia tak akan pindah ke perusahaan lain. ”Saya selalu di-support untuk belajar. Itu yang penting,” sebut dia.

Pendapat senada diungkapkan Alvan. ”Saya merasa ada intellectual stimulating yang tak ada habisnya dari perusahaan, dan itu bukan dari gaji,” kata dia. Di Google, setiap orang ditantang lebih pandai oleh tim yang anggotanya datang dari mancanegara.

”Collaboration make you learn from the other. Perasaan itu ada di setiap karyawan, dan itu yang membuat Google nomor satu,” ujarnya. (Jawa Pos/JPG)




Kita semua pasti mengenal tokoh si Untung dalam komik Donald Bebek. Berlawanan dengan Donald yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donald. Jika Untung dan Donald berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang di jalan pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, don’t worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.
Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang-orang beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesannya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.
Misalnya, dalam salah satu penelitian The Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada 2 kelompok tadi. Orang-orang dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa? Ya, karena sebelumnya pada halaman ke-2, Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “Berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah-tengah koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “Berhenti menghitung sekarang dan beritahu ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!”. Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar-benar sial.
Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial, seperti dilansir hermawayne.blogspot.com

1. Sikap terhadap peluang
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan? Ternyata orang-orang yang beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.
Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permatanya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain, ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permatanya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian, Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.
Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba-tiba ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba-tiba mendengar suara yang tidak ketahuan sumbernya, bisa-bisa saya jatuh pingsan. Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara. Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:
-Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba-tiba deg-degan ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat-isyarat tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba-tiba meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba-tiba meriang lagi.
-Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian, saya ternyata bekerja di kantor tersebut.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis ke depan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka, setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tesnya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank, dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “Wah sial bener ada di tengah-tengah perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “Untung saya ada di sana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya, orang yang beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan
Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang-orang semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi. Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yang mereka tuliskan. Dan ketika mereka melihat beberapa hari ke belakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.



Belajar Cinta Dari Cicak








Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok. Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong di antara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemukan seekor cicak terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah surat.
Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek surat itu, ternyata surat tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.
Apa yang terjadi? Bagaimana cicak itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun? Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikit pun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.

Orang itu lalu berpikir, bagaimana cicak itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada surat itu! Bagaimana dia makan?
Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan cicak itu. Apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. Kemudian, tidak tahu dari mana datangnya, seekor cicak lain muncul dengan makanan di mulutnya..aahhh!
Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor cicak lain yang selalu memperhatikan cicak yang terperangkap itu selama 10 tahun.
Sungguh ini sebuah cinta, cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor cicak itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? Tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, cicak itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. Bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.
JANGAN PERNAH MENGABAIKAN ORANG YANG ANDA KASIHI!



Kasih Sayang Seorang Ibu













Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.

Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.
Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.
Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.
Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.
Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.
Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.
Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.
Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.
Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.
Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, “Dari mana saja seharian ini?”
Sebagai balasannya, kau jawab, “Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!”
Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan. Sebagai balasannya, kau katakan, “Aku tidak ingin seperti Ibu.”
Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.
Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.
Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.
Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.
Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.
Sebagai balasannya, kau mengeluh, “Bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?”
Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai pernikahanmu.
Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.
Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu. Sebagai balasannya, kau katakan padanya,”Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!”
Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat. Sebagai balasannya, kau jawab, “Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu.”
Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.
Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.
Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.


JIKA BELIAU MASIH ADA, JANGAN LUPA MEMBERIKAN KASIH SAYANGMU LEBIH DARI YANG PERNAH KAU BERIKAN SELAMA INI DAN JIKA BELIAU SUDAH TIADA, INGATLAH KASIH SAYANG DAN CINTANYA YANG TULUS TANPA SYARAT KEPADAMU.





Kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV). Semoga kita dapat mengambil pelajaran.
Ini cerita nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yg diutarakan beliau adalah sangat benar sekali. Silakan baca dan dihayati.
————————————————————————————————–
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.
Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.
Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari, ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.
Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yg sulung berkata “Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak, bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.
Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-kata: “sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.
Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak-anaknya: “Anak-anakku… Jikalau perkawinan & hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah.. tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian. Sejenak kerongkongannya tersekat, kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.”
“Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit.”
Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno. Merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa.
Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru. Disitulah Pak Suyatno bercerita..” Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan”.
“Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama. Dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…”


Powered by Blogger.